catch the rawr hint!

Saturday, March 5, 2016

Hilang

“It had never occurred to me that our lives, which had been so closely interwoven, could unravel with such speed. If I’d known, maybe I’d kept tighter hold of them and not let unseen tides pull us apart.”
Never Let Me Go (2010)

Hai. Sudah lama sekali saya tidak menulis di sini. Banyak hal yang harusnya bisa saya tulis namun akhirnya saya hanya bisa menyalahkan waktu dan urgensi hal lain yang lebih utama. Oh ya, pernah tidak merasa kesal ketika sedang sangat ingin menulis tetapi yang kamu lakukan hanyalah mengetik dan menghapus tulisanmu? I’ve been there a lot. Tulisannya gak pernah jadi.
Peringatan:
1. Jika kamu adalah orang yang tidak suka tulisan dengan gaya bahasa campur aduk (sudah saya katakan), sebaiknya berhentilah membaca. Sekarang.
2. Jika kamu adalah orang yang tidak suka membuang waktu percuma, sebaiknya berhentilah membaca. Sekarang.
3. Jika orang yang saya bicarakan nanti adalah kamu, teruslah membaca.

Terimakasih atas kepercayaan dirimu. Mari kita lihat nanti.

Ide untuk menulis muncul ketika tadi pagi saya terbangun dari mimpi. Mimpi tentang seseorang yang mengingatkan saya pada satu rasa: kehilangan. Rasanya seperti kehilangan beberapa bagian yang menjadikan diri saya menjadi “saya”. Ini terjadi di akhir tahun 2015 lalu, ketika saya akhirnya dicalonkan untuk meneruskan kepengurusan himpunan.

Tahun 2015 saya diamanahi menjadi sekretaris umum di GEMASI (Gelanggang Mahasiswa Sastra Inggris); himpunan sastra Inggris di tempat saya berkuliah. Di akhir kepengurusan, saya diajak ngobrol oleh ketua dengan tujuan agar saya mau menjadi calon ketua kepengurusan berikutnya.  Mengenai pemilihan calon ketua, himpunan saya menggunakan cara:
1. Menebarkan survei kepada Gemasian (sebutan mahasiswa aktif GEMASI) tentang orang yang mereka pilih sebagai calon ketua;
2. Meminta persetujuan 10 besar calon ketua terpilih untuk maju ke tahap berikutnya;
3. Orasi para calon ketua yang bersedia;
4. Voting calon ketua
Oleh karena ada tahap nomor 2, ketua saya bersama teman-teman pengurus angkatan 2012 lainnya membujuk saya agar mau menjadi calon ketua.

Tahap survei selesai, dan terpilihlah 3 calon ketua yang terdengar diharapkan oleh seluruh angkatan. Tiga calon itu adalah saya, Deden Kurnia Syam dan Rian Fauzan. Saya dipilih karena mungkin ikut kepengurusan yang lalu dan dinilai cukup tahu bagaimana organisasi GEMASI ini berjalan. Deden dipilih karena he’s everybody’s love heart. Deden dikenal mengetuai segala peracaraan di lingkungan kampus, bisa masuk ke dalam lingkungan manapun dan punya IPK paling tinggi seangkatan. Yang terakhir Rian, sama seperti Deden, sepertinya tidak ada yang tidak suka padanya. Well, ini cerita tentang Rian. Sayangnya, bukan kamu. Mau berhenti membaca sudah kepalang penasaran, bukan?

Oke saya lanjutkan.

Sore itu di sekretariat Gemasi, panitia pemilihan umum rapat mengenai calon ketua. Saya sampai pada waktu itu belum bisa memutuskan akan maju sebagai calon atau tidak. Sialnya, saya nimbrung rapat dan mau tidak mau mendengar bujuk rayu semua panitia. Deden pun ada disitu. Oh, saya lupa. Deden adalah ketua panitia pemilihan umum Gemasi. Cerdik memang. Mana bisa ketua panitia maju sebagai calon ketua Gemasi? Deden secara tidak langsung tidak akan maju sebagai calon ketua karena tugasnya. Tersisa saya dan Rian.

Saya sengaja keluar ruangan sekretariat karena tidak mau mendengar apa yang mereka rencakan. Saya chat Rian dan menanyakan keberadaannya. Saya bilang ingin ngobrol. Dia meng-iya-kan untuk segara datang ke sekretariat. Dia pun meminta nomor handphone saya, “Kali aja butuh,” begitu alasannya.

Rapat selesai. Sudah hampir maghrib. Beberapa orang di antara kami mengeluhkan lapar, termasuk saya. Kami memutuskan untuk pergi makan ke Mekdi di daerah Cibiru, Bandung. Saya mencium bau-bau konspirasi beberapa panitia yang masih berusaha membujuk saya dan Rian. Kami yang berangkat dari Nangor akan bertemu Rian di sana karena Rian sedang berada di rumah temannya di Bandung.

Sehabis shalat maghrib akhirnya kami sampai di Mekdi Cibiru. Disana ada saya dan beberapa panitia pemilihan umum, teman-teman saya, termasuk Deden dan ketua kepengurusan yang lalu, Nia. Kami memesan makanan sambil menunggu Rian. Rian datang dan langsung duduk di samping saya. Kursi di samping saya memang dibiarkan kosong karena ya untuk Rian duduk. Bau konspirasi.

Beberapa hari yang lalu, setelah hasil survei keluar, Rian memang bilang ingin ngobrol dengan saya. Nia penasaran soal apa yang akan Rian bicarakan. Nia, sialnya, duduk berhadapan dengan saya yang secara otomatis jika hal tersebut saya bicarakan saat itu, Nia akan tahu. Orang-orang di sekeliling meja kami bilang, “Sok (ayo), rundingin aja dulu.” Saya dan Rian berunding. Berunding di depan mereka. Dengan suara yang kecilpun masih bisa terdengar. Mekdi penuh, tidak ada tempat di sekeliling kami yang kosong. Perfect.

Perasaan saya kala itu masih ragu. Saya masih kurang percaya diri jika nanti maju sebagai ketua. Memimpin sendiri. Saya tanyakan pilihan kepada panitia pemilihan umum, “Kalau seandainya aku ketua dan mau ada wakil boleh gak?” dan jawaban yang saya terima membuat saya sedikit lega. Oke, saya tawarkan kepada Rian, “Cong (panggilan Rian oleh teman-teman), kalau kamu jadi wakilku gimana?” Rian menatap saya. Ia masih ragu karena tidak punya basic apapun tentang GEMASI akunya.

“Tapi emang kamu gak apa-apa kalau aku jadi wakilmu?,” tanyanya sangat rendah hati. Saya meng-iya-kan dan kami pun bersalaman tanda kami setuju untuk maju. Semua berteriak, “YEAY!”

10 P.M : Malam itu, Rian membawa motor temannya. Ia bilang akan mengembalikan motor itu dahulu kemudian pulang. Rumahnya di Bandung. Sebelum pulang, ia bersalaman dengan Deden dan berkata, “Aing udah bikin maraneh seneng kan.” Deden senyum dan bilang, “Hati-hati ya Cong, jangan ngebut.”

10.30 P.M : Saya sudah di kosan. Sudah kenyang, saya tidur dan menatap langit-langit kamar mengingat keputusan besar yang saya ambil. Handphone saya mati sementara badan saya sangat malas untuk berpindah lagi. Saya ketiduran, tidak ada firasat apapun.

06.30 A.M : Ya, saya terlambat shalat subuh. Tunggu, saya mendengar suara ketukan pintu. Perlahan-lahan saya coba membuka mata. Berat sekali. Sebelum bangun, saya mencoba berpikir suara siapa itu. Oh Deden. Suaranya khas, sangat berat. “Pus, Pus”. Pikiran saya jahat, saya ingat bahwa hari itu saya sudah bilang bahwa saya, Rian, dan Deden akan membuat program kerja untuk keperluan orasi. Saya pikir untuk mengabaikan saja dan berpura-pura masih tidur. Ternyata, Deden tidak mau menyerah. Akhirnya saya terbangun dan membuka pintu. Kami berada di ambang pintu.  
Mata saya belum dapat secara jelas melihat. “Pus,”
“Acong udah gak ada.”
“Maksudnya?”
“Iya, Acong udah gak ada”
Saya sudah bisa melihat, mata Deden merah.
“Apaan sih Den?”
“Acong meninggal.”
“Gak usah bercanda deh.”
“Iya, Pus.”

Badan saya runtuh, jatuh. Saya menangis sejadi-jadinya dan berteriak, masih tidak percaya. Deden memeluk saya, “Ayo kita ke Bandung”. Tanpa bersiap-siap, saya membawa hal seadanya, dan berangkat. Di sana, saya lihat dia. Terbaring kaku dan dingin. Melayang ingatan saya pada malam yang lalu. Saya masih menjabat tangannya dan tersenyum.

Rian kecelakaan setelah pulang dari Mekdi. Dia masih bisa menelpon teman yang memiliki motor yang ia kendarai. Ya, kawasan Cibiru memang sangat gelap pada malam hari. Ada saja pengendara yang sembrono menyebrang ke arah jalan yang lain. Dan Rian menjadi korban pengendara itu. Rian mencoba menghindari pengendara itu, dan dia terjatuh. Sayangnya, ada motor lain dari belakang yang menabrak punggungnya.

Rian masih bisa dibawa oleh temannya ke rumah sakit terdekat. Ia masih sadar dan menolak temannya kala menghubungi keluarganya agar datang, “Udah aing gak apa-apa.” Tetapi sekitar pukul 12 malam keluarganya datang. Rian tidak sakit dari luar. Dari tubuh yang kelihatan oleh mata, ia tidak apa-apa. Namun, pukul 4 pagi ia menghembuskan napas terakhirnya.

Tulisan ini bukan wujud ketidakikhlasan, namun saya masih menyesal tidak dekat dengannya sejak dulu. Pribadi yang sangat baik kepada semua orang, tidak pernah marah jika diledek, dan setia. Tidak usah saya ceritakan bagaimana kesetiannya. Baru saja saya berpikir dia akan berkembang bersama saya, ternyata Tuhan iri ingin lebih dekat dengannya.

Jangan bosan. Ada satu lagi cerita tentang kehilangan. Kehilangan diri saya yang dulunya percaya.

Bukan kecelakaan ini saja yang membuat saya merasa kehilangan. Ada satu lagi kejadian kecelakaan yang membuat saya sekarang berpikir ulang, “Apakah saya sedekat itu dengannya?” Kejadian ini sama, di akhir tahun 2015 pula. Ada teman saya yang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya kehilangan ingatan untuk waktu yang sementara.

Saya berniat menjenguknya di rumah sakit. Sudah banyak yang cerita kalau dirinya tidak diingat. Saya masuk dan ternyata saya termasuk ke dalam orang yang tidak dia ingat. Dia menjadi orang yang sangat berbeda dari orang yang kenal dekat dengan saya. Seperti baru kembali mengenalnya, saya merasa ada yang hilang. Baru saja saya melihatnya kembali setelah rutinitas kampus yang tidak ada habisnya, saya bertemunya dalam kondisi dia yang menjelma seperti orang asing.

Tidak masalah bagi saya untuk tidak diingat. Banyak yang akan mendoakannya agar bisa sembuh dan kembali beraktivitas, ingatan tentang saya mungkin akan kalah dengan yang lain sehingga hal ini yang bermasalah bagi saya sekarang. Sampai saat ini, saya masih belum bisa membuang pikiran bahwa dia adalah orang yang berbeda.  Bukan, bukan salah dia. Ini salah saya yang terlanjur percaya diri bahwa saya memang sudah sedekat itu dengannya; bahwa saya salah. Sudah berusaha memulihkan pikiran saya, namun segala makhluk dan kejadian dunia terasa meng-iya-kan. Berlebihan.

Kehilangan bukan hal yang baru bagi saya. Saya sudah merasakan hal itu sejak saya merasa sangat dekat dengan seseorang di masa lalu, bahkan secara fisik. Kami sering bertemu dulu. Saya lumayan sering approach dengan bilang kangen secara personal, upload foto masa lalu dan segala macamnya. Namun, masanya sudah beda. Saya sudah dalam tahap mengganggap bahwa “kangen” itu klise dan tidak berarti apa-apa. Saya sudah terbiasa dengan kehilangan dan berusaha meraih kembali kedekatan itu namun berkali-kali jatuh dan menyesal. Menyesal karena, hipotesa yang saya buat, bahwa saya tidak sedekat itu dengan mereka, kembali terbukti.

Saya tidak berani lagi menampakkan diri, tidak mau percaya diri lagi. Apa yang bisa saya lakukan kecuali bermimpi, untuk dekat kembali. Sudahi. 

Thursday, March 5, 2015

Puisi Tidak Konvensional, Rima, Bentuk, Kita

Bertemu dalam satu payung kelas
Sudah percaya dan mengerti tidak berbatas
Cek-cok, maaf, belajar, coretan putihnya kertas
Sama-sama, terpisah, bertemu dan kumpul di Kansas
Berbeda daerah, status, keahlian, kegemaran, beda asas

Sembilan kepala bergabung dalam satu bingkai dan asli
Si gaul pemain biola, tukang gila belanja, sensi
Pelit, gudang musik 90-an, tukang jual-beli
Si super rajin, model, dan juga penyanyi
Yang mana, sila tebak sendiri


A Chosen Level of Peter Hollindale’s Ideology Appeared in Joseph Jacobs’ Three Stories through The Characterization and The Frequent Elements

Peter Hollindale has explained that children literature books have three levels of ideology which are ‘made up the explicit social, political, or moral beliefs of the individual writer’, ‘imply the individual writer’s un-examined assumptions’ by recognizing the texture of language, and ‘inscribed within the words of the text.’ One of many kinds of those children literature books is a genre of fairy tale. Fairy tale in the nineteenth century was something believed by many Victorian writers as ‘an ideal vehicle for influencing the minds and morals of the reading.’ In this era, which the industrial revolution in England was happened, ‘the few at the expense of the many mass of urban poor having come into existence’, the materialistic society also founded on greed. I think by the existence of urban poor and also the greed people in this era, many writers of children literature made their characters into that stereotype. By this issue and the fact in my opinion it has relation with children literature, I will conclude which one of the three levels of ideology of Peter Hollindale appeared in the three stories of Joseph Jacobs, “Lazy Jack”, “The Three Sillies”, and “The Story of Mr. Vinegar” through their characterization of poor fellow and stupid character and the supportive frequent elements in their own story events that may imply the writer’s wish to recommend the message to children.

As in this case I will choose which Peter Hollindale’s level of ideology, I am trying to give a little explanation I understood from the three of them. In the first level, it says that the story gives an explicit view of the writer about the social, political, or moral beliefs as in the Sarah Fielding’s Governess whose character explain the moral values explicitly to the other characters in the story. Second level explains the possibility of the writer’s assumptions in the story read by the readers while the third one is about the power of the ideology itself in forcing the text to be more natural as it is inscribed within the words. I am also using the characterization of poor fellow which in Knowles’ and Malmkjær’s “Language and Control in Children’s Literature” described as ‘a very strong indication of impeding calamity’ but I find the contradictory situations in these three stories which I will explain later. Besides characterization, I use the frequency to confirm myself that may be this is the writer’s implicit intentions from these stories to tell the message to the children.

In “Lazy Jack”, a story about a boy whose name is Jack forcing himself to be hired as he is being told that if he could not find any job his mother ‘would turn him out to get his living as he could’, powers up its character since the beginning. As it is stated, ‘they [are] very poor.’ with a simple explanation of Jack who is ‘[Doing] nothing but bask in the sun in the hot weather, and sit by the corner of the hearth in the winter-time.’ and that is the reason why he is called ‘lazy’, the story somehow gives a first impression to me that it may flow by bringing out the stupidity of Jack.

The story brings its narrative events by the setting of time day-to-day. Jack who is hired by different people day by day failed to bring things as his fees to his house like penny, a jar of milk, a cream cheese, a large tom-cat, and a shoulder of mutton because he just cannot bring them in proper ways. His mother always states that he is stupid and orders him to do the proper ways based on the things he brings that day. The frequent says of Jack replying to his mother’s orders ‘I’ll do so another time’, probably keeps the story to still go on. Instead of asking how if he will be given a different thing tomorrow that it means ‘his mother’s method’ will not work anymore, he is just obedient to his mother’s orders. In this case, Jack may imply to give an image of children, at least his mother’s son, who has to be given more explanation of what his mother has told him. His mother is probably a character related to adults in real society. It is a relation between how adults must give a further explanation of what their children may face in their lives. I think that it is as same as the time when a child is given a chance to choose a reading book to be read. As in Knowles’ and Malmkjær’s “Language and Control in Children’s Literature” states:

.....it has been feared that literature might have a detrimental effect, and that it should therefore not be left to the child to choose for itself which books to read.

It is also supported when Jack does not ask for another explanation for his mother’s orders, he fails for over and over. The burden to ask is not just the only thing that is meant to be concerned, as in the case which-book-should-I-choose it ‘should be taught to consider it a duty, to consult their parents in this momentous concern.’ The mother’s orders done to him may also imply didactic method that children’s literature has. Its purpose to tell children that this is good and another is bad comes to the surface implicitly although it is being told by not-so-good way like telling Jack is stupid. In the end of this story, Jack can surprisingly get a beautiful girl recovered from deaf and dumb because he can make her ‘burst out into a great fit of laughter’ when she looks out the window seeing Jack is carrying a donkey on his shoulders going back to home from work. His stupidity leads him to his fortune to marry the girl whose father is rich. Again, the case that children can ‘must form their own mental representation of characters, places and actions’ with the upcoming fact that they are also unable to be abandoned and should directed by their parents, the moral value gets my attention. Children still have less experience that it possibly makes them miss to get what should have really taken from a story. Moreover, this story implicitly tells that being stupid is something fine that the character finally finds his true happiness in the end.


The second story is The Three Sillies which is about a gentleman who travels a long way to find people who are sillier than a farmer family whose daughter has been courted by him. The story begins when the daughter of the family is always being sent to draw a beer in the cellar for supper. She begins to feel afraid when she looks a mallet stuck in one of the beams. She is eaten by her over thoughts that she supposes something in her mind. She states:

Suppose him and me was to be married, and we was to have a son, and he was to grow up to be a man, and come down into the cellar to draw the beer, like as I'm doing now, and the mallet was to fall on his head and kill him, what a dreadful thing it would be!

The frequent says of the daughter is repeated by her mother and her father when they wonder that she does not come back after looking for a beer in the cellar. Her mother and father also do the same thing with her that they repeat the same statement. The frequent says in this case makes the other characters do the same thing that probably if the daughter does not say any words of it, it does not happen for all members of the family find themselves end in a miserable cellar. The frequent events of saying also perhaps become the supportive argument to get the reader in believing family’s stupidity. The fact that finally the gentleman is succeed in finding the other sillies people than this family powers up the nothingness thing that should be taken from this story as a moral value. In addition, I think not every folktale has to explain something, but maybe it is just a matter of entertainment since the title is interesting for children.

From the beginning of the story, the indication of a poor fellow does not appear but since the gentleman travels searching for other sillies people, the environment is quite describing that it is a poor fellow environment like when the gentleman met the woman in her cottage trying to get her cow to go up a ladder to get the grass, then in another time he found another silly person who cannot put his trousers on in inn, and he also met the group that assumed moon was on the pond instead of thinking it is just its reflection. The thought that may be this family is poor is somehow supported with the fact that the daughter and her mother and father do stupid thing worrying something stupid.

Meanwhile in the last story “The Story of Mr. Vinegar”, I find a term ‘poor fellow’ when Mr. Vinegar and Mrs. Vinegar just have to move to another place because their house, which is a vinegar bottle, was broken. They have to move to thick forest and have to climb the tree. The frequent statement of Mr. Vinegar “I should be the happiest man alive.” is stated when he has not felt satisfied yet with he has had with him since he found forty guineas left by a band of thieves from the start. His stupidity and greedy allow him to have more and more things worn or brought by people he just met in the street although the things that he bargains are unfair compared to the value he gives to those people. This frequency perhaps keeps him doing what he believes or hopes that he could be the happiest man alive.

The story is different from the two former above. If those two implicitly makes us think that being stupid does not matter and apparently gives a good ending, in this story being stupid is just a matter of stupid. Moreover, I also find the didactic role of this story which is when Mr. Vinegar is being told by a parrot on the tree that he just has done some mistakes when he exchanged his belonging to something that is less-valuable than what he has had before.

In conclusion from these three stories of Joseph Jacobs, I find that the characterization of poor fellow and stupid character may influence how the characters are being described in doing actions. By knowing how this character is being described in doing actions, I know the possibility of why this story has the frequent statements and events. These frequent statements and events lead to the writer’s un-examined assumptions in making these stories, which is Peter Hollindale’s second level ideology. Although it is ‘impossible to confine ideology to a writer’s conscious intentions or articulated messages’, this is just a merely matter of accepting that ‘writers for children cannot hide what their values are.’ supported with the fact that adults still have to demonstrate the value or the message of the story with some training in critical skills. By these kinds of frequency that I mentioned before within the three stories, ‘the texture of language and story will reveal them and communicate them.’

Check My Yahoo Mail, Found This

You always know the brain-heart storm that we have been through together, we fight and make it up for over and again. It takes blood, sweat and tears out of us, brings our ego up to the top, and no one ever wants to be blamed for it. I love this storm, the wind and the wave that all the time try to make us broken, thoroughly makes our ship stronger than before. We are grateful for it to never end the lovely dovey we have made from the start. We dance upon this ship, happily hold the pole for the proof of promises of our commitment to always stay together crossing the sea. I’m happy to be the deck you have chosen in your ups and downs, captain. I’m happy to be with you in the hot and cold water. 

I hope this happiness won’t make us forget to be more mature because there is another storm ahead. It never fails to bond us for obvious. The second in two years, thank you for everything you have done for me, to protect me and warn me in this dangerous sea. Happy 25th birthday, captain. When you want to tell everything, you know where is to go.  I love you to the end of the sea and back.

October 5th 2014.

 -------------
I gave it to my friend for her boyfriend's birthday, few days later I got them broken up for reasons I've never known.

Wednesday, February 25, 2015

What's Tiny Pieces of My Fourth Semester Been Up To

Whoa. It's been a long time not to write here yet a very big question will appear whether I have even a reader or not. I've luckily survived from my third semester, and now am crawling and guessing what's next on my fourth one.

This semester as still I see blur but fun. I still have books to analyze, journals and essays to read, poems to make for friends who fall in love, songs, and......movies. This is the coolest thing ever I did and will do over all my college experiences: I will do watch movies, mostly the not-so-popular-and-rated-by-everyone-but-clearly-genius-and-fucking-good. There's nothing special with movies but when other majors have no time watching movies and busy with numbers, pictures, and codes, we are here having movie screening in class, discussing, and arguing.

Movie as well as I've known, is entertaining. But here, I am forced to have a closed look to its plot, characters, narrative, setting, dialogue, and so on, in which I could get something from it, to learn, to reflect, to be more sensitive. I am forced to do that; analyzing, analyzing, and analyzing again.

I also found myself falling in love with the classic movie ones; the old ones. They do not have to have a good graphic, beautiful setting, stunning actor or actress, they just have elegant and clever dialogues I love it. I've started three old movies for this semester- The Breakfast Club, 12 Angry Men, and Stranger Than Fiction- am very impressed of my lecturer's taste, good to know we still have few movies until the rest of this semester.

Ok. You've heard my creative writing class. It must be fun and should be fun because I have to be creative and if there's any force and mounts of materials to read, subjectively there'll be no creativity. You've heard 'the only fun' I'll get for this semester and the one which I happily share.

When I wrote this post, suddenly there was something knocked at my door yelling "Hey this is me, assignment 1", it came in my room asking me to make a fictional character and I gave it a cup of relaxing tea telling it to wait until I finished my post.


It was very close to my ear and said, "May the force be with you."

Monday, May 5, 2014

Hantu Masa Lalu

Sepinya malam melarut, diramaikan tanda tanya yang muncul bagai halilintar. 
Bolehkah aku sejenak menghentikan waktu, terpejam, berpendar merona pada gelap yang sunyi? 
Bertanya pada diri, “darimanakah datangnya ini?” saat ku dengar bulan mulai merintih meminta pagi. 
Berharap dunia ini hanya delusi, dunia penuh rasa iri menghantui dan masih melagu setiap ku tengok masa lalu seorang pribadi.

Kamu

Aku terduduk di palung bisu. 
Bayangan itu terukir di bias mataku. 
Seseorang dalam masa lalumu menyorotiku hingga sedalam-dalamnya aku. 
Lalu suara angin menyepoi pikiran dihinggapi sunyi yang merambati kulitku. 
Remah bunyi paling gaduh pun susah meminangku. 
Rasa bergidik yang terlampau jauh tak luput menyelimutiku. 
Perlu ruang untukku merangkak, bangun, dan berlari di kepalamu setelah

Dia

Yang tak lamat derapnya dapat melekat. 
Insan berapi-api dan disenangi. 
Disana tenggelam dalam gelak tawa bersama bagai cahaya yang enggan menyirna. 
Poros terjauh akan jadi jarak nyata, bukan fatamorgana, antara aku dan dirinya. 
Luruh semua pertanyaanku, 

Aku hanya bisa percaya pada melodi yang melambai hingga ke telingaku, menyakinkan proyeksi mataku, dan berkata, 

“Semua hanya perasaanku saja.”

Sunday, January 19, 2014

#1. Love

When the twilight began to joke on our love story
Sound of thunder can’t crumbled it down turning into a dark night
An increasingly heartbeat as a tone you heard of
With our souls had just blown away to another dimension
You and I
Dancing in violet glitter we make it up both
Forgetting where we were supposed to be
But don’t stop what you did feel, and yeah,
The way you make me feel now, overflowing through our dances
If you make your time stand still just for me
As we traveled back in time, make it worthy 
Hold my hand, I’ll never let you get away
I soundlessly promise

To you, Love

Tuesday, January 14, 2014

Telepati, Mimpi, dan Doa

Ada isyarat senja yang disampaikan kepada malam
Pesan delusi yang hinggap di sela-sela jendela kamarmu
Angin berbisik, bercerita kepada kesunyian
Berisikan nestapa rinduku, berperang pada panjang dan luasnya jarak
Terlalu dini aku menagih hadir janjimu
Biarlah, semoga telepati mimpimu bergerak dekat menjemputku
Melepaskan gengsi yang terpeluk erat, menerbangkan doaku
Hingga sampai, pemersatu aku dan kamu pada sebuah rasa
Rasa yang sudah membuat kita menari
Dalam kata mimpi

Monday, January 13, 2014

Implications of The Symbols to The Characters

Things that are believed by the characters contained in the story as a particular symbol either the form of thoughts, visual objects, or something tangible like superstition that in fact only believed by a handful of people could help the readers examine how the story was being told, also has implications for the nature and attitude of the characters themselves inside the story. The latter symbol is found in P. G. Wodehouse’s short story entitled “Black for Luck”, a stray black cat who is taken by Elizabeth, the main character, with its good impression with the support of a statement told by a janitor who likes locating things named Francis, that black cats bring good luck.
Her trust in the need for taking the stray cat may be based on ‘the wind blowing’ as Francis said "Black cat (s) bring luck" when Elizabeth received her manuscripts back with editorial compliment and the acceptance of being a part of 'the game' that she willingly requires to leave her own pet magazine which she claims as “Accustomed to fly refuge , almost sure of a welcome” similarly the conviction she left early statement of her distrust just by saying "I certainly shan't object to that" to beat Francis's former statement.
This stray black cat, as known as Joseph, with his behavior makes the host much in love with him as pointed out as “Elizabeth adored him...” could possibly affects Elizabeth, this Bohemian New Yorker, who lives her unprotected life and who undergoes much straining to keep her faith in the other human nature becomes a friendly soul depending mainly the footsteps of a kindly man who lives in the flat whose front door faced hers. A man whom she assumes as a stealer of other people’s cats in the afternoon when Joseph disappeared. A man whose name James Renshaw Boyd. A man who changes Joseph into his Reginald.
The perplexing fact comes from another Elizabeth’s inconsistency to look inside the symbolize of a black cat which makes herself rather hypocrite here. When she knows nothing can describes the reason why James took her cat but he is “as superstitions as a coon” then he claims her as “a sane and practical”, she believes that Joseph, the black cat, could help James in his first play (he is a playwright), and despite the fact that Elizabeth does not have any friends and also regards Joseph as just “a company”, she won’t take him back. The event implies that Elizabeth is getting denied and refused her distrust again that she indirectly turns out to support the power of the black cat by saying “And how do you suppose I should feel if your play failed simply for lack of a black cat?” to James.
The combination of the character’s conviction is apparently destroyed by their behavior of giving reaction to each other later. An “Ah” from James when Elizabeth tells that she has been given more responsibility as an official adviser to readers is replied by Elizabeth who’s unsympathetically hearing that there are so many players in James’ four-act comedy. Such ambivalence is also apparent as the narrator states, “one moment peace ; the next chaos”, it may be considered that the presence of the black cat is probably not so significantly affected for both of them, because if it does, the story may be shown continually proving that have a black cat is indeed a luck. The narrator’s narrating the story with the tendency to be more confusing here instead of constructing hopes to the reader to get little triumph by also believing the symbolize of the black cat itself which is narrated in the preceding paragraphs. The confusion comes up because of “a cold fight” that is not so clearly depicted in the story, a fight that makes Elizabeth would neither forgive James nor forgive herself and finally decides to avoid him although James and Joseph is the only two friends she had in New York seems like the irony thereof. Moreover, in the case of the symbol as if relieving himself by not physically appearing and eliminating its role in the story.
But then the role of Joseph in the story is displayed again when Elizabeth assumes that James had sent a folded scrap of paper and left this in front of her door on the previous night, as he states on that paper, “I am just off to the theatre. Won’t you wish me luck? ............ Joseph is purring like a dynamo”. The story suggests that the absence of Joseph can be absolutely the lure for Elizabeth to come to the theatre accompanying James supported by the fact that they are the friends in the city who both always feel lonely.
Moreover, after they through all the series of the events contrary to what they might expected at the first place that “Black cats bring luck” is deserved to be trusted, I arrive to the climax which is appeared when James’ hope is again ‘stranded’ on the theater as the narrator states, “James’s play was a hideous failure” then makes Elizabeth perhaps rebuild her distrust again by saying, “Let him (the black cat) go, the fraud". This is how the symbols can reversal those characters’ trust and distrust by probably depending what sort of luck their mean.
While in Edgar Allan Poe’s “The Tell Tale Heart”, the focus symbol is the eye which is the only reason for “I” to kill the old man. How the eye can possibly affected “I”, as later known as also the narrator, influences through several contradictions. The first contradiction is built up by the narrator’s first attempt to try showing him to the readers that he is not mad but in the first sentence of this story as he states, “True! --nervous --very, very dreadfully nervous I had been and am”  is the way of him describing how he probably confesses it, too.
Furthermore, the fact that “I loved the old man” very contradictory at all with his motivation to kill the old man in every midnights by sneaking into his room for one week. His tendency to be obsessed towards the old man's eye that may lead him to the wrong perception between love and hate. Then the irony arises when he assumes that the old man's eye as he believes as the "Evil Eye" which led to him like this and that’s why he has to literally take the eye. Moreover, the other misperception is when he does not so well know that separated the eye from human body will immediately kill the whole of life and the addition of the narrator to "dismembered the corpse" by cutting off his head, arms, and legs, is probably the development of the irony itself.
The different types of how the symbol implicates the character comes from the attitude of Mr. Hooper in Hawthorne's "The Minister Black Veil" which is more determinant to face the symbolize of his black veil. Although he received any kind of scorn from various groups in his congregation and even got an immediate protest from his lover to take away his black veil, but Mr. Hooper will not do it until the rest of his life. As he states to his lover, Elizabeth, “the veil is a type and a symbol”, it may implies that he has realized it was a symbol which he must consistently guards.

Wednesday, December 25, 2013

Selamat Jalan, Ri.

Saya benar-benar terkejut setelah mendapat sebuah kabar hari Jumat pekan lalu, di minggu tenang sebelum UAS. Awalnya, saya melihat salah satu akun Twitter kampus memberitahukan ada mahasiswa Unpad yang hilang terseret ombak di pantai Garut. Saat itu hanya tertera dengan titel ‘Mahasiswa Unpad’, beberapa menit kemudian barulah akun itu memberitahu bahwa korbannya bernama Hari Syahman. Hari? Saya sepertinya tidak asing dengan nama ini. Personal Message BBM salah satu teman saya juga seperti ini “Hari dimana? :(”, saya langsung saja menanyakan kepadanya tentang kabar itu. Benar saja. Dia adalah Hari, teman saya satu divisi di suatu kepanitiaan bulan lalu. 
Berita itu seperti petir yang menggelegar di siang hari terik. Itu---Hari? saya kaget dan bingung melihat beberapa versi cerita di akun Twitter dan media. Minggu tenang saya menjadi tidak begitu tenang mengingat kabar tentang hal ini.
Hari adalah ketua angkatan himpunan mahasiswa sastra arab 2013. Supel, jahil, dan satu yang saya suka darinya, sederhana mulai dari parole ucapan hingga penampilan. “Ana-ente” juga ciri khas dari foto nomor satu di kolom follower saya ini. Momen terakhir saya berinteraksi dengannya adalah saat saya sedang berada di depan kelas lantai bawah, dia turun lewat tangga dari lantai atas dan menabrakkan tubuhnya ke arah saya secara tiba-tiba lalu tertawa.
Kemarin, di musholla fakultas, saya bertemu dengan Wardah. Dia teman satu jurusan dengan Hari. Saya pikir dia tahu percis bagaimana kejadian itu. Menurut cerita yang saya dengar dari Wardah, Hari, saat itu sedang berekreasi dengan teman-temannya di Pantai Guha, Garut. Dia berenang menyelamatkan salah satu temannya yang tenggelam. Teman yang diselamatkannya selamat karena terseret ombak ke tebing samping pantai. Sementara itu, Hari terseret ombak hingga ke tengah laut dan hilang. Subhanallah.... saya semakin miris mendengar cerita itu. 
Pencarian tim SAR, BEM, BPM, dan komunitas fakultas mulai dari hari jumat hingga kemarin tidak membuahkan hasil. Pencarian Hari resmi di hentikan kemarin dengan jarak terjauhnya 92 km dari bibir pantai. Selamat jalan kawan. Dimana pun dan bagaimana pun keadaanmu, kamu telah pergi membawa kebaikan bersama memoir bagi setiap kepala yang akan selalu merindukan gelak tawamu. Kami senatiasa mengirim doa, Allah pasti tahu yang terbaik bagi mu, Ri. 
Jgn selalu berpikir apa yg kita dapat, pikirkan juga apa yang telah kita beri. Karena kita akan mendapat apa yang kita beri. Bahkan berlipat :) - tweet terakhir @hari_es

Saturday, December 14, 2013

Berpuisi, yuk!

#puisimalam adalah forum yang dibuat akun Twitter @nulisbuku yang memberikan kesempatan followers-nya membuat puisi, dengan satu kata yang harus disertakan di setiap puisinya. Beberapa kali saya berpartisipasi di #puisimalam. Ini adalah beberapa di antaranya:
  • Kamu mengubahnya dari rasa rindu yang tertuang ke dalam barisan. Kata itu bermain, lalu terbang hingga ke telingaku.
  • Bulir-bulir harapan yang pelik untuk semesta rasakan. Tak heran dirimu sukar menerima kartu dari seseorang yang lain.
  • Salahkan mereka yang tidak pernah bosan bersesakkan di sana. Selamat datang untuk engkau, pemenang kartu.
Banyak sekali puisi yang diretweet oleh @nulisbuku dan saya suka, seperti:
  • @phijatuasri: Ada selarik rindu di sini, di secarik kartu pos yang terhanyut sepi. Pergi, menemuimu dalam sembunyi.
  • @9ulamerah: Di sebuah toko, ada kartu yang sengaja tak diperjual-belikan, konon katanya; itu adalah setumpuk kenangan.
  • @penuliscemen: Mainkan saja nadamu, sedang aku dengan kataku. Mari kita hidup dengan kesenangan masing-masing.
Asyik sekali bisa berbagi kata-kata indah penuh makna dengan sesama. Walaupun sulit  diretweet oleh akun ini, saya senang bisa ikut ambil bagian di #puisimalam sembari mengasah kreatifitas berbahasa dalam waktu satu jam. Oh ya, sudah banyak followers yang mempublish buku mereka lewat akun ini, lho. 

Suka nulis puisi? Yuk follow @nulisbuku dan ikuti #puisimalam-nya. :)

Tulislah puisi, saat nada atau gambar sulit mengungkap suatu kata yang tertahan di lidah. 

Menjadi (benar-benar) Manusia

Bagi kamu yang mudah saja berkomunikasi dengan orang lain, tertawa dan membicarakan apa saja, bersyukurlah, karena seseorang yang disini terkadang sangat sulit memulai sesuatu, bergabung dan terjun lebih dalam di sebuah percakapan. Seseorang yang disini lebih handal menciptakan suasana kikuk dan membuat orang lain pergi menjauh. Pikiran yang membelit ini diciptakannya hanya untuk diri sendiri, tidak untuk dia bagikan ke yang lain. Kalau saja dunia ini hanya penuh dengan tulisan, mungkin dia yang akan menang. Itupun jika tidak ada lagi yang seperti dirinya. Dalam imaji, dia ralat duka menjadi bahagia bahwa dia, kenyataannya, tidak bisa mengeksiskan dirinya dalam lingkungan, berharap dirinya tidak nyata, fiksi, dan hanya seorang karakter di sebuah buku atau ornamen dalam mimpi orang lain. “Persetan dengan luka”, pikirnya. Satu yang diinginkannya, rasa menjadi manusia.

"Mana Papermu?"

Siang ini, saya baru saja pulang dari tempat saya mencari kelanjutan ilmu. Pulang ke rumah yang baru tiga hari keluarga saya tempati. Kira-kira sama besar dengan rumah yang lama. Saya tiba di rumah, berbungkus baju hijau dengan totol-totol air hujan. Untung saja, Papa rela menjemput di shelter bis yang berada di perumahan kami. Kini, saya duduk beralaskan lantai putih, bersandar pada tembok berwarna biru langit, dan dihadapkan pada komputer jinjing yang ditaruh di meja kecil cokelat kayu. Mata saya tertuju pada satu layar. Disana tertera "Mana Papermu?"

Paper merupakan bukti dari ilmu yang telah kita dapat selama kurun waktu tertentu. Biasanya terdiri dari 6 halaman dengan tema sesuai bidang ilmu masing-masing. Bidang ilmu yang  saya ambil adalah sastra Inggris. Satu-satunya mata kuliah yang mengharuskan saya untuk membuat paper adalah mata kuliah Introduction to Prose.

Mata kuliah ini, menurut saya, adalah yang paling membukakan mata terhadap bidang ilmu dalam pengutamaan sastra. Dahulu, saya hanya tahu cerita-cerita yang sudah pasti endingnya; antara sedih atau senang. Setelah kurang lebih lima bulan belajar, saya banyak menemukan cerita karya pujangga-pujangga dunia yang tidak mempunyai akhir, tidak beresolusi, bahkan dalam keadaan yang tidak sedih ataupun senang. Banyak cerita yang tidak hanya berkutat soal cinta, tetapi luas cakupannya, mulai dari cerita anak kecil umur 8 tahun yang terpaksa membantu ayahnya menolong kelahiran seorang wanita di perkemahan Indian, hingga cerita dua dosen sastra Inggris yang bertukar tempat kerja dan juga berselingkuh dengan istri masing-masing. Mata kuliah ini membuat saya harus masuk ke dalam cerita-cerita hebat karya pujangga-pujangga ternama, dan terkadang mengabaikan cerita yang harusnya saya ukir sendiri.

Bukan hanya soal mata kuliah-nya saja yang menarik, tetapi juga pengajarnya. Bukan hanya pengajar tetapi juga pendidik. Bisa dibilang, 75% yang beliau katakan di kelas bukan tentang bagaimana mata kuliah Prose dapat langsung diterapkan oleh mahasiswa-nya. Penyampaian materi yang beliau berikan, yang saya tangkap, lebih banyak yang yang tersalurkan secara tersirat. Mengenai tugas, contohnya. Waktu itu, kami diberi deadline sekitar 7 jam untuk membandingkan 3 cerita karya David Lodge, Conan Doyle, dan Mary Rowlandson. Kami harus memaparkan perspektif narator masing-masing cerita dan membandingkannya tanpa beliau beritahu bagaimana caranya. Menurut beliau, kriteria mahasiswa yang cerdas adalah yang bisa bertanya bukan bisa menjawab. Bisa ditebak, tidak ada satupun dari kami yang berani bertanya.

Kembali ke paper. Salah satu contoh paper dari mahasiswa satu tingkat di atas saya yang bernama Rizky mengangkat tema ironi dan sarkasme. Saya memintanya untuk mengirimkan final paper tersebut sebagai bahan saya untuk melihat bagaimana sih mulainya. Saya terkejut melihat bagian akhir paper miliknya. Di bagian akhir, dia menghubungkannya dengan sejarah revolusi Inggris dan Amerika. Kalau dipikir-pikir, saya terlalu muluk melihat contoh yang seperti ini.

Sampai detik ini, detik saya mengetik kata demi kata di layar komputer jinjing ini, saya belum mau beranjak mengerjakan paper yang deadline-nya minggu kedua bulan Januari. Entahlah, saya yang masih ingin menikmati rumah baru atau udara sejuk khas musim hujan yang selalu bisa membuai saya untuk menunda pekerjaan. Kenyataannya, jika saya memang berniat mengerjakannya, bisa saja sekitar satu jam yang lalu paper saya sudah menginjak kata ke-500 sama seperti post ini, yang kemudian saya jadikan alasan untuk menunda pembuatan paper tersebut. Niat saya mengakhiri post ini juga bukan berarti awal saya mengerjakan paper, tetapi awal saya memikirkan hal apa lagi yang bisa menunda paper sampai pada akhirnya saya benar-benar berniat mengerjakannya.

Thursday, July 11, 2013

Bosan Gak Jadi Orang Baik

Enggak, habis gak selamanya juga orang baik diremehkan. Allah yang membalasnya, Allah itu Maha Adil. Memang benar, kita baik pada semua orang tapi belum tentu mereka baik pada kita. Tapi kalau kebaikan itu dimulai dari kita apa salahnya? 

Gak bosan, gak mau bosan, dan gak akan bosan. Yang terpenting ridho yang di atas. Ikhlas ngelakuin kebaikan insha Allah disayang banyak orang dan itu lebih baik dari pada hanya sekedar dihargai. Masalah karakter, orang baik juga bisa berkarakter.

Sebelumnya ku koreksi dulu, aku gak sepenuhnya baik, masih banyak banget malah yang menurutku buruk. Bedain orang baik sama orang yang diremehkan. Baik itu universal, abstrak, dan gak terukur. Bisa kok jadi orang baik yang dihargai juga. Itu bawaan diri kita untuk bagaimana kita dihargai. Cuma presepsi orang lain itu, kalau udah jadi orang baik itu prinsip, mau menurut orang lain membosankan, kenapa nggak?

Yaaaa memang orang baik kadang diinjak dan diremehkan, kadang berpikir lagi mungkin ini cobaan Allah untuk mengingatkanku bagaimana aku menanggung-jawabkan dan sebesar apa kekuatan aku saat itu.

Kalau aku masuk kategori baik, gak ngerasa bosan tuh. Yang harus ditanya itu, ada alasan buat jadi gak baik?

You guys are so HEALERS.

Wednesday, July 10, 2013

Reuni SD

Reuni SD Mekar Mukti 06 Angkatan 2006/2007, 6 Juli 2013 bertempat di Rumah Makan Mety Putri- Pasir Gombong, Cikarang, Jawa Barat. Rencana yang telah kami buat sekitar sebulan sebelum acara bisa terbilang sukses. Berawal dari ide seorang laki-laki yang mungkin bisa dibilang, dia yang paling semangat kalau soal beginian, Muhammad Al-Anis Faishal (Ais). Entah apa yang ada dipikiran orang ini, Saya dan teman-teman yang lain sudah seharusnya memikirkan soal perguruan tinggi, tapi masih juga harus membuat acara reuni yang sudah kedua kalinya ini. Bisa dibilang juga anggkatan kami adalah angkatan yang paling rajin membuat reuni dibandingkan angkatan-angkatan lainnya.

Awalnya ide Ais membuat reuni ini adalah; “Nanti lo semua kan bakal sibuk masing-masing, jadi ya kapan lagi?”. Lalu dipilihlah kami, panitia yang sudah ‘lega’ adalah kami yang lolos SNMPTN jalur undangan dan yang sudah fix memilih Perguruan Tinggi Swasta.

Kegiatan dimulai dengan memilih tanggal dan tempat, kami pun memilih 6 Juli di RM. Mety Putri. Lalu kami membuat sususan acara yang meliputi: makan siang, games, door prize, dan pengumpulan barang-barang layak pakai untuk bakti sosial.

Kami pun tidak lupa untuk mempublikasikannya kepada teman-teman angkatan. Untungnya, masalah hubung-menghubungi menjadi perkara mudah di jaman sekarang. Karena kita hidup di jaman yang bohong namanya jika sesorang sulit dihubungi kecuali dia menutup diri.

Well, kita ngomongin budget sekarang. Kami memesan paket 50 porsi seharga 2 Juta rupiah di Mety Putri. 20 Ribu rupiah/anak untuk makan siang dan doorprize. Kami sebagai panitia berelapang diri untuk menyumbang lebih dari anak-anak lain, 30 ribu rupiah.

Setelah banyak yang mendaftar untuk ikut....panik. Target kami hanya 35 orang saja yang ikut ternyata terlampau jauh sekali. Mau tidak mau, kami harus punya dana lebih dari 2 juta untuk berjaga-jaga.

Perburuan dana pun dimulai; tentukan donatur; buat proposal; datangi; konfirmasi; mau kerja; mau gerak. Tantangannya bukan hanya gak dapat uang, tapi juga panitia yang sibuk melengkapi berkas di universitas masing-masing, sejadi-jadinya kami harus bergantian untuk kerja.  

Beberapa hari sebelum hari H, dana 2 juta memang sudah tertutup, tapi kami masih takut uang kami tidak cukup kalau-kalau yang datang memang lebih dari perkiraan. Sampai-sampai tercetus ide untuk membawa timun dan tempe untuk tambahan makanan disana. Bayangkan saja, Anda sudah memesan tempat makan dan keadaan mengharuskan Anda untuk tetap membawa makanan juga dari rumah. Yang penting cukup.

Yak, memang bakal ada saja hal yang tidak terduga menjelang acara. Mulai dari dijanjikan souvenir Singapura untuk kenang-kenangan Guru, orangnya menghilang. Donatur yang menunda-nunda kabar dan ekspektasi kami yang terlalu tinggi. Dapat kabar ada cinta lokasi sesama panitia. Dikasih door prize tambahan gratis dari Ibu salah satu panitia. Sound yang tidak ada pas hari H, orangnya ngibrit ke luar kota. Kami pun baru menunjuk Amel dan Ayu sebagai MC hanya kurang lebih 2 jam sebelum acara. Tapi mereka bisa melakukannya dengan baik. Maka jangan remehkan juga kekuatan otak saat kepepet.  

Memang bakal ada saja hal yang tidak terduga setelah acara. Yang datang ternyata tidak melebihi yang telah membayar. Ada dana pemasukan dari donatur jauh melebihi harapan panitia. Apresiasi dari yang datang sampai bilang “Kapan adain acara lagi?” dan.... gak munafik, surplus. Uang itu bahkan menjadi nilai yang sangat besar bagi kami yang berpatok pada ide sederhana, dan 1 bulan realisasi. Alhamdulillah.

Ada beberapa poin yang menurut Saya menjadi faktor kesuksesan yang bukan hanya menurut kami (baca:surplus dan cinlok) tapi juga bagi objek yang datang (baca:tinggal datang-tinggal makan-tinggal dapat doorprize-pulang);

1. Jangan remehkan sebuah ide, bertindaklah.
Setiap orang pasti punya ide, cuma bedanya ada yang hanya disimpan dalam pikiran mereka dan ada juga yang direalisasikan dalam kehidupan nyata.  Ada kutipan, bahwa ide hanya akan berharga jika kita bertindak.  Dan tindakan itu dimulai dengan komunikasikan ide Anda kepada orang lain. Anda tidak akan bertindak, jika tidak mengetahui mau bertindak, maka jangan remehkan kekuatan ide.
Di dunia ini tidak ada yang melebihi kekuatan sebuah ide. Tidak ada senjata yang bisa memusnahkannya. Tidak ada kekuatan fisik yang bisa menjajahnya, kecuali kekuatan ide yang lain. 
2. Mau gerak; yang penting jajal dulu.
Mikir terus juga gak akan jalan, harus ada yang gerak. Anda tidak akan tahu hasil apa-apa kalau tidak mecoba. Dibutuhkan orang-orang yang mau-kemana-saja dan orang yang mau-bekerja-apa-saja, tentunya untuk kesuksesan acara. Poin ini sangat pokok dalam hal pencarian dana.

3. Pikirkan resiko paling buruk.
Sejujurnya pemikiran yang terlalu berlebih kadang dibutuhkan juga. Maksud saya adalah, kita bisa saja memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, tapi mana kita tahu mana yang akan terjadi. Maka kita dituntut untuk terus berpikir ketika bertindak, termasuk memikirkan resiko yang paling buruk sekalipun, karena masalah kemungkinan mana yang akan terjadi menjadi masalah belakangan. Menurut Saya, ini juga sebagai pemicu semangat bekerja.

4. Jangan benci dengan orang bossy.
Banyak orang benci dengan orang yang sok-memerintah. Tapi, dalam satu acara kadang dibutuhkan juga orang yang seperti ini ketika tidak ada yang bisa memimpin. Orang yang ditunjuk menjadi pemimpin, misalnya dalam satu kelompok, pun kadang tidak bisa memimpin sebaik orang ini. Maka jangan kutuk mereka, biarkan saja mereka jadi api, tapi arahkan mereka menjadi api yang baik.

5. Jangan bosan beritahu publik.
Apalagi dengan banyak media social akan sangat membantu. Kalau acara sudah sangat matang dipersiapkan apalagi yang diharapkan selain banyak yang datang?

6. Masukkan kegiatan amal.
Tidak ada salahnya menyelipkan satu agenda acara untuk kegiatan beramal. Ini sudah kali kedua Saya berpikir The Power of Charity adalah salah satu faktor keberhasilan acara yang Saya dan teman-teman buat; yaitu pada perayaan hari ulang tahun sekolah Saya dan acara ini.

Semoga pengalaman Saya bisa bermanfaat untuk yang sudi membaca postingan ini :D
Inilah jejak kami :







Tuesday, June 18, 2013

Drama Ikan

...............
"Tiap malam bisa kamu lihat terang sinarnya di atas sana."
"Tapi tak bisa senyum. 'Masih banyak ikan di laut', tidak berlaku untuknya."
"Semua orang juga begitu, ingat juga di laut ada hiu, ubur-ubur, bahkan yang beracun."
"Yang penting umpan. Mereka yang salah memilih ikan, mereka yang salah memilih umpan."
"Sayangnya si pemberi umpan kadang berpikir hari ini bukan yang tepat untuk memancing."
...............
"Kadang ikan pun harus dilepas.."
"Daripada dia habis, dan makanan terbaik baginya hanyalah di laut lepas."
"Kenyataannya ikan itu diambil oleh nelayan lain."
"Bukankah keputusanmu untuk melepas? resikomu untuk kehilangan dan digantikan." - dan masalah dia dimakan atau dipelihara menjadi urusan yang lain.

Percakapan dengan salah satu teman. Bukan, ia adalah seorang laki-laki yang sering sekocak Standup Comedian tapi bisa juga seserius seorang Mentalist. Disarankan, jangan silih curhat dengan orang yang sama-sama sedang galau. Malam akan sejadi-jadinya sebuah drama tak berkesudahan. 

Saturday, June 8, 2013

Narnia?

Tidak, tidak akan ada “Guess Who” seperti di blog tetangga sebelah KZA. Jangan paksa otak Anda untuk menebak, sudah mampir saja Saya sudah senang. Yap, ini tentang sahabat Saya. Yuk silakan baca.

Peter
Kalau di Narnia, Peter ini kan yang mimpin adik-adiknya melawan si Penyihir Putih, yah walaupun jauh banget tapi teman saya yang satu ini kelihatan punya jiwa kepemimpinan kok, dari geregetannya doi soal acara perpisahan angkatan 35 nanti. Penyuka hidup (yang katanya) praktis dan santai. Mungkin saking santainya, kalo lagi makan jadi yang paling lama. Di kepalanya ada banyak pertanyaan aneh yang gak dipikirin kebanyakan orang. Dari mulai efek head bang terhadap cara belajar sampai galau nyari identitas dia sebagai gitaris. Walaupun kata blog tetangga dia apes, justru dari situ dia bisa kasih pelajarannya ke orang lain termasuk saya.

Edmund
Si muka dua, Edmund dituduh sebagai si muka dua karna membantu Penyihir Putih. Kalo teman saya yang satu ini, bukan bermuka dua yang kalian bayangkan kok. Cuma, beda, kalo di dunia maya kelihatannya doi galau segalau-galaunya, tapi, kalo udah ketemu aslinya.....ya begitulah hahaha. Kalo kalian laper dan langsung update kemudian ada orang yang ngeledek kalian pakai gambar, teman saya ini pasti pelakunya. Jailnya ngga ketulungan dan kalo udah ngeles, bikin yang lain gak bisa bilang apa-apa lagi.

Susan
Susan itu selalu setia ‘di belakang’ mengikuti Peter (kakak pertamanya), sama seperti teman saya yang ini, setia. Setia nemenin saya kalo begadang tiap malam soalnya hehehe. Gimana engga? Doi suka nonton bola dan matanya emang udah terbiasa buat kebuka di jam-jam tersebut.  Pendengar yang baik walaupun seringnya heboh banget kalo di sms. Satu dari sekian juta penggila Maroon 5. Paling seneng ngeledekin adiknya yang udah pacaran duluan, tapi kadang suka PDC (Pancing Dikit Curhat) dengan bilang, “Apa yang mau gue ceritain?” dan “Kapaaaaan gue bisa punya cerita begitu?”

Lucy
Ingat siapa yang sangat yakin Aslan masih hidup? Maka jangan rendahkan Lucy, dia punya sesuatu. Emang bener, umur itu nggak nentuin tingkat kedewasaan seseorang. Walaupun paling muda, dia lebih bisa dan tau bagaimana cara bertindak dan berpikir ketimbang saya.  Si cewek super yang rumahnya jauhnya ampun-ampunan, mana ada dinosaurusnya segala katanya. Baik banget dan oke ini sama, dia selalu tau dimana tempat dimana dia nggak boleh sedih, apalagi di depan orang lain. Orang yang entah sudah berapa banyak orang yang bilang kalo saya...mirip dengannya.

Ini hanya sebagai ucapan terimakasih karena yang di atas ini rela meluangkan banyak waktu hanya untuk mendengarkan saya cerita. Bukan cuma soal solusi yang mereka kasih tapi lebih kepada kata ‘Iya’.  Tapi kalo ide penggambarannya lewat karakter Narnia, itu sih cuma iseng aja.
Maaf kalau bahasanya campur aduk, terimakasih sudah membuang-buang waktu J

Sunday, April 28, 2013

Kotak

Pagi tadi ketika sedang membereskan rak buku, tidak sengaja Saya melihat kotak penyimpanan itu. Usang dan berdebu karena sudah lama tidak diisi dan dilihat. Kotak ini berwarna hijau dengan motif clover yang katanya perlambang keberuntungan, pemberian Papa seusai pulang dari Jepang ketika Saya kelas 2 SMP. Kotaknya tidak terlalu besar sehingga Saya suka karena tidak perlu repot mencari tempat dimana harus meletakannya.
Banyak benda yang Saya taruh di kotak tersebut karena Mama selalu bilang, “Kak, kalau apa-apa disimpan saja, buat kenang-kenangan.” Adapun benda-benda tersebut adalah:

  1.  Segala macam kartu peserta lomba dan seminar
  2. Kartu peserta Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) yang berwarna-warni dan lengkap.
  3. Kertas pembagian kelompok PCKO/PCPO 2011
  4. Name tag kertas PCKO/PCPO 2011
  5. Kertas bukti penerimaan proposal Dies Natalis 2011
  6. TTS yang Saya buat di kertas yang isinya nama-nama siswi di kelas
  7. Kartu peserta tes masuk kelas bilingual SMA Negeri 1 Cikarang Utara 2010/2011
  8. Kertas tanda bukti daftar ulang sewaktu Saya diterima di Kelas Bilingual beserta kwitansinya
  9. Kartu garansi dan jaminan 24 bulan service gratis kacamata
  10. Kartu Ujian Nasional SMP Tahun Ajaran 2009/2010
  11. Kertas keterangan pihak sekolah dan permohonan izin orang tua yang dibuat oleh OSIS 2013 untuk legalisasi kelas Saya pergi ke Ancol
  12. Surat cinta dari anak-anak MOS 2011 sewaktu Saya menjadi Tim Pemandu Kelas
  13. Surat cinta dari anak-anak MOS 2012 sewaktu Saya menjadi Sie Acara
  14. Kartu peserta Mutiara Medical Center pemberian sekolah tercinta
  15. Kertas naskah tugas akhir pelajaran Bahasa Jerman
  16. Name tag jabatan OSIS 2011 dan 2012
  17. Formulir aplikasi beasiswa President University
  18. Tiket nonton dan struk makan
  19.  Pin POSKAB
  20. Tiket try out akbar, dan
  21. Kardus berbentuk huruf “P” yang Saya ‘curi’ dari karya Departemen 6 OSIS 2012

Benda-benda itu sama seperti foto yang bisa menyimpan kenangan di dalamnya serta mengingatkan kenangan tersebut kepada si Empunya. Tidak heran kalau Saya sempat bengong saat melihatnya satu persatu.  Setelah kotak itu berhasil membuat Saya tersenyum sendiri, segera Saya masukan kartu peserta Ujian Nasional 2013 yang baru saja berlangsung dan friend sign dari sahabat Saya tercinta, Gita Rizki Fardillah. Hm... kalau saja huruf “P” dari kayu yang kamu pahat dan jam yang kamu beli tidak kamu ambil, pasti sudah Saya masukkan ke dalam kotak itu juga, Tom.
Senang rasanya punya media yang bisa dipakai untuk menyimpan benda-benda kenangan. Saya yakin, kalian juga pasti punya bukan? dalam pengisian tidak terasa tiba-tiba kotak penyimpanan sudah penuh saja, membuat si Empunya tersenyum sendiri ketika menemukannya secara tidak sengaja :)





Popular Posts

Powered by Blogger.